Pages

9 Okt 2012

#5


29 November 2012
Sabtu !! yap, ini hari sabtu. Hari dimana waktunya untuk bermalam minggu. hari dimana sepasang kekasih akan saling melampiaskan rindu, melampiaskan hasratnya untuk saling bertemu, dan bahkan melampiaskan hasratnya untuk saling bercumbu. 

 Hari sabtu, malam minggu. hari dimana sepasang kekasih dikendalikan oleh hawa nafsu. .

Lalu bagaimana dengan aku? Apakah malam mingguku seperti itu? Bila aku punya kekasih mungkin akan seperti itu. Atau mungkin lebih dari itu. Untungnya aku sedang tidak punya kekasih. Sehingga setiap malam minggu, aku terhindar dari bisikan si hawa nafsu.

Hari sabtu adalah hari yang selalu ku tunggu-tunggu. Bukan karena aku akan bermalam minggu. tapi karena aku akan bertemu, dengan anak-anak kecil yang lucu-lucu.

#4


Liburan telah usai, saatnya kembali menuju rutinitas yang menjemukkan.

Hari setelah liburan aku awali dengan bangun tepat disaat adzan dzuhur berkumandang. setiap hari memang selalu seperti ini, tidur shubuh bangun dzuhur. Benar-benar pola tidur yang berantakkan. Tak ada lagi yang namanya tidur malam. Aku lupa, entah sejak kapan kebiasaan jelek ini melekat dalam kehidupanku. Mungkin kebiasaan jelek ini datang ketika aku berada di tingkat akhir kuliahku. Saat itu memang jadwal kuliah selalu ada di sore hari, sedangkan malam hari aku habiskan untuk mengerjakan skripsi. Sehingga jadwal tidurku jadi mundur menuju shubuh.

Masih kunikmati hari-hariku sebagai seorang sarjana muda. Eh, tidak, tapi seorang pengangguran. Aku masih bisa menikmati indahnya bangun siang. Meskipun setelah bangun, siang hari aku menjadi begitu tak karuan. Tak ada kegiatan apa-apa yang bisa dilakukan. Terasa membosankan, hanya berdiam diri dirumah dan tak ada yang dikerjakan. Siang yang terang tampak menjadi seperti gelap yang mencekam, yang melahirkan kecemasan dan kegelisahan. Seperti inikah rasanya menjadi pengangguran?? Terasa tertekan dan penuh beban.

Saya butuh pekerjaan !!

#3


24 November 2012
Wooohooooo, Liburan !! akhirnya aku memutuskan untuk menerima ajakan teman-teman untuk ikut berlibur ke pangandaran. Sebelumnya aku sempat menolak untuk ikut karena alasan keuangan. Tapi berkat pinjaman uang dari kakakku yang aku paksa untuk meminjamkan uangnya, akhirnya saya bisa ikut liburan. Keinginan untuk liburan kali ini memang sangat kuat, mengingat sudah lama sekali aku tidak liburan. Lagipula pikiran ini sedang sangat berantakkan, sehingga rasanya perlu untuk refreshing sekedar untuk menjernihkan kembali pikiran ini. Dan dua panggilan test kerja di esok hari pun terpaksa aku abaikan. “ah, masa bodo lah. Saat ini aku hanya butuh sedikit hiburan dan liburan yang melahirkan kesenangan, bukan kepusingan karena test kerja yang bisa membuat pikiran ini semakin berantakkan”.
Dan selesai shalat isya, aku dan 7 temanku berangkat menuju pangandaran.

Kali ini nafsu yang menang. .

24 Sep 2012

#2

malam ini kamar saya terlihat berantakan sekali. keadaannya tak beda jauh dengan pikiran saya yang sama-sama sedang berantakan. tak begitu jelas apa yang membuat pikiran ini begitu sangat berantakan. semuanya hanya terasa, tanpa bisa terungkapkan. saya memandang langit-langit dikamar, menerawang apa yang akan terjadi esok. terbayang esok hari yang akan penuh kesulitan, bahkan kesulitan itu akan bertahan di esok-esok hari lainnya. rasanya ingin sekali menghentikkan waktu, agar tak ada hari esok, atau hari-hari selanjutnya. kemudian akan saya putar kembali waktu dan mengembalikannya ke ruang dan waktu dimana saya sedang merasa tenang, damai dan bahagia.

20 Sep 2012

#1

Pagi ini, saya sudah berada didalam bis dengan rasa kantuk yang luar biasa.  Seharusnya saat ini saya berada di kasur lengkap dengan selimut dan guling menikmati indahnya tidur di pagi hari, seperti yang telah biasa saya lakukan selama masa kuliah. tapi, sebagai seorang sarjana muda yang dituntut harus mencari kerja membuat saya harus bangun pagi. Maka pagi ini, saat mahasiswa-mahasiswa sedang larut dalam mimpi indah di tidur paginya, saya malah sudah berkumpul dengan orang-orang yang tiap pagi naik bis untuk berangkat kerja. sejenak kuperhatikan wajah-wajah mereka, tak ada satupun yang memasang wajah cerah dan ceria. yang ada hanya wajah-wajah suntuk karena harus terus-terusan menjalani rutinitas yang menjemukan. tiap pagi mereka harus berangkat kerja, sungguh sangat menjemukan. apakah setelah saya dapet kerja nanti, saya juga akan menjalani rutinitas yang menjemukan seperti yang mereka alami?? dan apakah setiap hari pula saya harus memasang wajah suntuk?? ah, entahlah. .menjemukan atau tidak, itu tergantung diri kita sendiri.

***