Pages

24 Mei 2013

Kau dan Dunia


Semuanya akan terasa indah mulai dari sini. Apa-apa yang kau lihat, apa-apa yang kau dengar, apa-apa yang kau rasakan, adalah sesuatu yang tak pernah kau kenali sebelumnya. tempat ini seperti sebuah ruang imajinasi. Khayalmu akan mengalahkan kenyataanmu. Membawamu terbang menyusuri ruang hampa tak bermakna, dan kebahagiaan yang janggal ada disana. Dan kau akan melihat sebuah fatamorgana yang sempurna, meski kau tak pernah menyadarinya. 

Tempat ini adalah sebuah perhiasan yang tak berharga. Kepalsuan ada dimana-mana. Yang tampak tidak seperti yang kau lihat. Yang bersuara tak seperti yang kau dengar. Dan yang kau jalani didalamnya hanyalah sebuah permainan dan gurauan belaka.

Dunia ! inilah nama tempatmu sekarang berada. Sebuah persinggahan sementara, yang hanya akan kau lalui dalam rentang waktu yang tak lama. Dunia ! begitulah manusia menyebutnya. Sebuah Maha Karya dari Sang Pencipta, karena didalamnya tersimpan keindahan-keindahan yang tak terhingga.

Dunia, pesonanya sungguh sangat luar biasa. Sekian juta manusia jatuh hati kepadanya. Dan ingin menenggelamkan diri bersamanya. kilau-kilaunya terhampar dengan sempurna. Warna-warni tersebar dimana-mana. Kemilaunya adalah harapan sekian juta manusia. Dunia, memiliki kekuatan magnet yang luar biasa. Akan menarikmu kedalamnya. Untuk bercinta selama-lamanya.

Dunia, adalah perawan yang cantik jelita. Tapi setelah sekian lama ia berubah menjadi pelacur hina, yang berkali-kali melakukan operasi plastik pada wajahnya. Make up tebal berpuluh-puluh centi menempel di wajahnya. Menutupi kejelekan-kejelekan yang ada padanya. Tak ada kealamian dalam kecantikannya. Tubuhnya sangatlah busuk, namun terbalut bunga-bunga indah berbagai macam rupa dengan harumnya yang mewangi. Manusia-manusia selalu dibiarkan menjamahi bunga-bunga ditubuhnya, menyetubuhi satu persatu sampai lenyap harumnya yang mewangi. Bau busuk ditubuhnya tercium kesana kemari. Tapi manusia-manusia seperti tak peduli. Pelacur hina ini masih saja terus digemari, dinikmati sekian juta manusia. Sungguh pelacur hina yang hebat sekali.

Dan kau termasuk didalamnya, satu dari sekian juta manusia yang selalu menggemarinya. Menjamahi dan meyetubuhinya berkali-kali. Saling bercinta diberbagai posisi. tak sedikitpun ada rasa lelah yang menghinggapi. Tak sedikitpun ada keinginan untuk berhenti . .kecuali jika ajal datang menghampiri. .

18 Mar 2013

Hitam Memancar, Putih Memudar


Senang dipuja. Sedih dicaci. Lalu hitam mematikan putih. Kehidupanmu pun berubah. 

Kau terjebak dalam lubang kegelapan. Terjebak didalamnya. Bahkan terpenjara, karena kau tak bisa beranjak sedikitpun dari sana. Kau sempat melihat seberkas cahaya. Adanya disana, dikejauhan dengan jarak yang tak bisa kau perkirakan. Kau berusaha. Berlari, berjalan hingga merangkak menuju arah sana. Arah sebuah cahaya. 

Kau terlambat, belum sampai kau kepada cahaya nyanyian setan telah dikumandangkan. Memecah kesunyian kegelapan. Nada-nadanya begitu janggal. Bunyinya keras. Suaranya bising. Bising yang merdu. Yang terdengar indah ditelingamu. Hanya ditelingamu, pada saat itu. Celakanya, kau terpedaya. Kau mulai menikmati nyanyian setan itu. Kau pun mulai bergerak. Kepalamu, tanganmu, dan kakimu. Terlihat seperti menari. Ya, kau menari mengikuti irama. Irama dari sebuah nyanyian setan. Mengerikan !! nyanyian itu, merangsak menuju kepalamu. Masuk melalui telingamu. Menuju akalmu, pikirmu, dirusaknya kewarasanmu.

Kau gila, kau tertawa. Terbahak-bahak, terkekeh-kekeh. Kadang pelan, kadang keras. kau kesurupan !!. nyanyian setan membuatmu melayang. Dituntunnya kau oleh setan, terbang menuju kebebasan. Kebebasan yang paripurna. Yang semakin menenggelamkan kau kedalam lubang kegelapan. Penjara kegelapan yang lainnya. Yang lebih gelap, lebih pekat, hitamnya lebih kuat. Cahaya pun semakin tak terlihat.

Di penjara kegelapan yang lebih pekat, kau tercekat. Ini seperti tempat yang sangat kau kenal. Bau tanahnya, bau udaranya. Tempatnya begitu sangat dekat. Ini dunia, pikirmu. Ini memang seperti dunia, atau mungkin memang dunia. Kau melihat-lihat. Kau terpikat. Disekelilingmu ada berbagai macam kesenangan yang memikat. Kesenangan semu. Semu juga sesaat. nafsumu pun tergerak. Bergejolak begitu hebat. Pertanda saatnya memenuhi hasrat.

Dimana matamu melihat, disanalah kesenangan selalu terhampar. Menjelma berlian yang berkilau. Sangat menggoda. Disebelah kirimu ada harta. Didepanmu ada tahta. Disebelah kananmu ada wanita. Dibelakangmu kau tak tau ada apa. Tidak begitu jelas terlihat dimatamu.
Matamu menajam. Tampak buas. Kau sedang menimbang. Memilih mana dulu yang ingin kau jamah. Harta, tahta, atau wanita??. Tak lama, terlihat semburat senyum dibibirmu. Pertanda kau telah memutuskan. Nafsumu telah memilih, untuk bergerak ke arah kanan. Menuju sang wanita.

Wanita itu adalah yang memakai gaun berwarna merah. Rambut panjangnya yang indah terurai kebawah. Hingga punggungnya. Bibir merahnya tersenyum merekah. Memperlihatkan senyum yang manis. Senyum yang hanya akan tercipta oleh wanita yang manis. Wanita itu cantik sempurna. Dengan tubuh yang juga sempurna. Atau dimanipulasi untuk sempurna dimatamu, hanya dimatamu.

Wanita itu adalah manusia yang sama sepertimu. Wanita yang juga terjebang dalam penjara kegelapan. Atau malah menyengajakan diri untuk terjebak didalam penjara kegelapan. Kegelapan yang penuh kesenangan, yang melahirkan kepuasan.

Nyanyian setan masih dikumandangkan. Kau merasakan gairah yang luar biasa. Yang baru pertama kali kau rasa. Wanita itu sudah pasrah. Dan kau tinggal menjamah. Tapi kau malah berhenti. Kau mendengar ada yang memanggil. Memanggil namamu.

Hasan ! hasan !

Suara itu terdengar samar. Tapi begitu jelas ditelingamu. nafsumu merasa terganggu. Kau melihat sekelilingmu. Mencari yang memanggilmu. Adanya disana. Disebelah kananmu. Dua bayangan manusia. Tak begitu jelas terlihat olehmu. Dua manusia itu melambaikkan tangannya padamu. Gerak tangannya memintamu untuk kesana. Tapi kau tak mau. Karena kau harus segera melampiaskan nafsu. Dan tak ingin berbuat tidak sopan terhadap nafsu.

Semakin kau tak mau, suara itu semakin kencang ditelingamu. Semakin mengganggu. Gejolak nafsumu sedikit mengendur. Kau menjadi tak menentu. Antara ingin melampiaskan nafsu atau menghampiri dua bayangan manusia itu. Namamu terus disebut. Kau merasa terpanggil. Ingin menuju sana, tapi nyanyian setan malah terdengar keras lagi. Membangkitkan lagi nafsumu. Nyanyian setan terdengar ditelinga kirimu. Suara yang memanggil namamu terdengar ditelinga kananmu. Dua suara pun saling beradu. Kegelapan hening semakin bising.

Bising menciptakan pening dikepalamu. Segera kau arahkan tanganmu menuju telingamu. Menutupnya rapat-rapat. Agar telingamu tak dimasuki suara yang merambat. Tapi kau merasa ada yang salah. Bukan ditelingamu, tapi didalam tubuhmu. Seperti ada sesuatu yang bergerak-gerak ditubuhmu. Sesuatu itu menyeruak ke atas menuju lehermu. Minta untuk dikeluarkan dari tubuhmu. Kau mulai tak tahan dengan keadaan. Kau memuntahkan dengan teriakan. Teriakan yang sangat kencang. Mengalahkan suara nyanyian setan. kencangnya memecah ruang dan waktu. Aneh telah terjadi. Kau menghilang dalam kegelapan. Tapi mengeluarkan sesuatu. Sesuatu yang penuh keganjilan. .

Kau tak lagi berada di kegelapan. Kali ini kau berada ditempat yang semuanya tampak terlihat abu-abu. Sesuatu yang kau keluarkan membuatmu tercengang. Sesosok makhluk berjubah putih berdiri didepanmu. putihnya begitu menyilaukan. Kau tak bisa melihat jelas wajahnya.
“Siapa kau ?”. kau bertanya.

“Aku Iman. .”

“Aku adalah sesuatu yang berada ditempat paling dalam didalam dirimu. Aku adalah sesuatu yang dibentuk olehmu. Aku adalah sesuatu yang bergantung pada dirimu. Aku bisa hidup ataupun mati itu semua tergantung dirimu. Aku adalah sesuatu yang bisa menjadi penerang didalam kegelapan.” 

“Jadi kau yang menyelamatkanku dari kegelapan?”. Kau bertanya lagi. .

“ya, aku menyelamatkanmu dan membawamu ke tempat ini. Apa yang Kau lakukan telah membuatku lemah dan hampir mati. Karena itu aku menyeruak ingin keluar dari dirimu. Dan tampaknya aku harus menuntunmu. Ditempat yang abu-abu ini, kau akan kesulitan menentukkan mana yang hitam dan mana yang putih. Semua yang ada disini penuh manipulasi. Hitam bisa putih. Putih bisa hitam. Karena itu, Ikutilah aku”. Kata Iman seraya beranjak dari tempatnya berdiri.

Kau merasa ucapan makhluk berjubah putih itu tidak masuk akal. Sama dengan apa yang baru saja kau alami. Tidak masuk akal. Penuh keganjilan. Tapi entah mengapa kau percaya padanya.

“akan pergi kemana kita?” kau bertanya penuh keheranan.

“kau lihat saja nanti. Kau akan kubawa ke suatu tempat dimana nantinya kau akan membuat aku lebih kuat dan tetap hidup. Agar didunia yang penuh keabu-abuan ini kau bisa memisahkan dengan benar, mana yang hitam, mana yang putih. Dengan begitu kau tak akan terjatuh ke dalam kegelapan lagi”.

Tanpa keraguan kau mengikuti langkah makhluk berjubah putih bernama Iman. Kau mengekor, dan berlindung dibelakangnya.
Hitam Memancar. Putih memudar, tapi akan selalu berpendar.


21 Feb 2013

DIBALIK BERKEMBANGNYA BANDUNG MENJADI KOTA INDUSTRI KREATIF


Pada sebuah pertemuan internasional kota berbasis ekonomi kreatif yang dilaksanakan di Yokohama, Jepang, akhir Juli 2007, Bandung ditunjuk sebagai kota kreatif se-Asia Timur. Bukan hanya itu, pun pada Desember 2011 sebuah survey yang dilakukan oleh salah satu media di Singapura, yakni Channel News Asia, Bandung termasuk ke dalam 5 besar kota kreatif se-Asia.

Ini tentunya bukanlah suatu prestasi yang diraih begitu saja tanpa ada alasan yang kuat. Coba kita lihat bagaimana wajah Bandung bila ditinjau dalam 10 tahun terakhir. Dalam kurun waktu tersebut, Bandung dengan cepat mulai dipenuhi oleh berbagai macam industri kreatif seperti distro, factory outlet, dan tempat kuliner yang kini semakin menjamur dan tersebar di beberapa titik di kota Bandung.

Cikal bakal menjelmanya Bandung menjadi kota industri kreatif dimulai pada pertengahan dekade 90-an, ketika munculnya beberapa distro besar seperti EAT 347 dan Ouval Reasearch. Namun siapa yang menyangka, munculnya distro tersebut ternyata melahirkan banyak sekali distro-distro lainnya. Sampai sekarang kurang lebih ada sekitar 300-an distro yang tersebar di Bandung.

Namun, istilah industri kreatif baru dikenal oleh masyarakat Bandung sekitar tahun 2000-an. Karena pada tahun tersebut distro baru mulai menjamur dan produksinya mulai banyak dikonsumsi oleh anak-anak muda Bandung. setelah itu distro kemudian dijadikan sebagai sebuah trademark kreatif yang khas dari Bandung.

Mulai menjamurnya distro ternyata membuat masyarakat Bandung mulai menyadari bahwa Bandung memiliki potensi yang besar untuk dijadikan sebagai lahan wirausaha. Maka muncullah industri-industri kreatif lainnya selain distro, salah satunya yaitu tempat kuliner. Sejak adanya kesadaran itulah perkembangan industri kreatif di Bandung mulai progresif dan melonjak sangat cepat. Apalagi dengan mulai adanya dukungan dari pemerintah kota setempat dan komunitas – komunitas anak muda di Bandung yang akhirnya melahirkan beberapa event besar, seperti Bandung Clothing Expo ataupun KickFest yang mengkolaborasikan distro, music, dan juga kuliner di Bandung dalam satu event. Hingga akhirnya terbentuklah Bandung Creative City Forum ( BCCF ), yang akan mengembangkan Bandung menjadi kota Industri Kreatif. Berkat BCCF ini, banyak hajatan-hajatan kreatiftahunan yang sukses terselenggara. Diantaranya yaitu Helarfest, Semarak.Bdg dan yang lainnya.

Bandung yang dulu hanyalah sekedar pusat celana jeans yang berada di sekitaran jalan Cihampelas dan pusat sepatu yang berada di sekitaran jalan Cibaduyut kini merambah menjadi pusat distro dan tempat kuliner yang menyebar di bebearapa kawasan kota Bandung. Sebut saja jalan Trunojoyo dan jalan Sultan Agung yang kini telah dipenuhi oleh distro-distro. Atau jalan R.E. Martadinata yang dipenuhi oleh Factory Outlet dan tempat kuliner. Bukan hanya itu saja, Bandung kini menjadi pusat terselenggaranya pergelaran-pergelaran kreatif setiap tahunnya.

Banyaknya distro dan tempat kuliner di kota Bandung, juga banyaknya event-event yang yang ada di kota Bandung, serta adanya dukungan lain seperti banyaknya tempat wisata, banyaknya perguruan tinggi, dan cuacanya yang sejuk berhasil menciptakan daya tarik bagi orang-orang yang berada diluar Bandung untuk berkunjung ke beberapa kawasan kota Bandung, yang dipenuhi oleh distro dan tempat kuliner. Pun begitu dengan orang-orang bandung yang tertarik untuk berkunjung ke kawasan tersebut. Baik untuk belanja, berwisata kuliner, ataupun sekedar menikmati tempat wisata yang ada di Bandung.

Sayangnya berkembangnya Bandung menjadi kota industri kreatif yang banyak menarik perhatian para pelancong dari luar Bandung tidak diimbangi dengan dengan pembangunan maupun pembenahan tatanan kota ataupun infrastruktur yang baik. Baik infrastruktur fisik maupun non-fisik. Bahkan Bandung seperti tidak siap dalam mengimbangi lonjakkan pengunjungnya. Beberapa titik di jalanan di kota Bandung belum siap menampung tingginya volume kendaraan saat akhir pekan datang. Akibatnya, setiap weekend saat masyarakat Bandung dan orang-orang dari luar kota ramai-ramai ingin berkunjung ke pusat kota Bandung, Bandung seringkali dilanda kemacetan. Tengok saja jalanan di sekitar Dago, Pasteur. Cihampelas, Setiabudhi dan R.E.Martadinata yang sudah menjadi langganan macet setiap kali akhir pekan datang. 

Lonjakkan kendaraan yang berkeliaran di akhir pekan memang tidak dapat terhindarkan lagi. Seketika itu pun Bandung berubah menjadi lautan kendaraan. Menumpukknya kendaraan ini mengakibatkan orang-orang yang dari Bandung maupun dari luar kota menjadi tidak bisa menikmati Bandung yang telah menjadi kota industri kreatif ini. Bandung menjadi jauh dari kenyamanan karena tatanan kotanya semakin semrawut. Berkembang pesatnya Bandung menjadi kota industri kreatif yang menciptakaan daya tarik ini tampaknya malah menjadi boomerang bagi Bandung sendiri. Karena tampaknya Bandung masih belum siap dalam hal infrastruktur.

Ini tentunya menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah kota Bandung dan para pelaku industri Kreatif. Bahwa dalam membangun Bandung menjadi kota Industri Kreatif, tidak melulu harus memikirkan keuntungan yang akan didapatkan. Tetapi pikirkan juga mengenai bagaimana menciptakan kota industri kreatif yang dibarengi dengan kenyamanan kota, agar kota Bandung bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat Bandung, maupun orang-orang dari luar kota yang berkunjung ke Bandung.

Referensi :

7 Feb 2013

Azhar dan Rahza


Suatu hari di bulan februari,
Sekitar pukul sebelas lebih sepuluh menit

Siang sedang berkuasa, matahari yang hampir berada tepat di atas kepala orang-orang disekitar kota Bandung mengeluarkan hawa panasnya yang sangat menyengat, sehingga sudah pasti panasnya akan membakar kulit orang-orang yang sedang in relationship dengan matahari siang  pada waktu itu.

Jutaan kilometer dibawah sang matahari, dua orang manusia, Azhar dan Rahza tampak sedang berboncengan naik motor, menyusuri jalanan kota Bandung yang aspalnya sudah terlihat seperti lautan karena saking panasnya matahari yang menerpa jalanan tersebut. Wajah mereka berdua tampak keletihan, terlihat keringat sudah mulai muncul dari pori-pori kulit wajahnya. 

“Har, istirahat dulu deh. Tuh didepan ada tukang es goyobod. Gue ga kuat nih sama panasnya !”. 

Rahza, yang memang sudah kepayahan menahan cuaca yang panas meminta Azhar untuk istirahat dulu. Azhar pun membelokkan motornya ke arah tukang es goyobod.

“gila, panas bener nih. Kayanya jarak matahari sama bumi makin deket deh”. 

“sotoy lu. Heran deh gue sama lu, kemaren dikasih ujan ngeluh, sekarang dikasih panas juga ngeluh. Ga bersyukur lu !! Gimana ntar kalo lu masuk neraka yang panasnya berpuluh-puluh kali lipat dari ini”. Azhar yang sedang menyimpan helm di jok motornya menimpali omongan Rahza.

“dih sorry yak, Insya Allah gue akan berusaha untuk ga masuk neraka. Udah ah jangan debat dulu, mending mesen goyobod dulu deh, ga kuat nih haus”.

Mereka berdua pun memesan es goyobod, dan memilih tempat duduk di pojokkan. Tempat jualan es goyobod ini bagi mereka adalah tempat yang pas untuk melepas lelah. tempatnya sangat teduh, karena dikelilingi oleh beberapa pohon besar. Seringkali mereka datang ke tempat ini jika kebetulan sedang melawati jalanan disekitaran Buah Batu. Selain itu tempatnya juga seru, banyak cewek-cewek cantik yang nongkrong di tempat ini. 

Tak berapa lama es goyobod pun datang, mereka segera meminumnya, melepaskan dahaga yang sudah sejak tadi terasa sangat kering. Terasa sekali kenikmatan yang tiada tara ketika lelah dan rasa haus yang sedang menyerang sekejap sirna saat es goyobod telah masuk mulut dan melewati kerongkongan untuk menuju lambung.

“sungguh Allah telah memberikan kenikmatan yang luar biasa dari hal yang sederhana seperti ini. Cuma minum goyobod aja nikmatnya udah kaya gini”. Seru Azhar. .

“yap, gue setuju. Dan entah kenapa gue jadi inget sama firman Allah di surat Ar-Rahman, Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”.

“gue suka tuh sama ayat yang satu itu. Yang gue tangkep dari surat Ar-Rahman itu sih Cuma satu, yaitu Allah yang Maha Pemurah telah memberikan banyak sekali kenikmatan di dunia ini, baik yang kecil ataupun yang besar, yang kadang kenikmatan itu ga kita sadari. Jadi kita harus menyadari bahwa ada banyak sekali nikmat Allah yang ga kita sadari, kaya misalnya minum goyobod tadi, yang kadang kita ga sadar ada kenikmatan saat kita minum goyobod. Nah kenikmatan-kenikmatan itu harus kita syukuri, bukan kita dustakan”. jelas Azhar

"nah, sekarang lu yang sotoy, haha"

Gelas sudah kosong. Tak ada lagi goyobod yang tersisa. Kini lelah sudah tak terasa lagi oleh mereka berdua. Sebungkus rokok pun mulai dikeluarkan. Azhar mengambil dua batang rokok. Diberikannya satu batang kepada Rahza. Obrolan pun kembali dimulai ketika mereka berdua sudah membakar rokoknya masing-masing.

“eh har, lu perhatiin deh cewek-cewek yang ada disini. Mayoritas engga berjilbab. Gue heran deh kenapa mereka doyan mamerin aurat mereka?” Rahza membuka pembicaraan.

“ada banyak alesan sih kenapa mereka suka mamerin aurat. Pertama, mungkin mereka ga tau kalo dalam Islam, memamerkan aurat itu ga boleh. Kedua, mereka tau kalo dalam Islam ga boleh memamerkan aurat, tapi mereka lebih suka untuk berpenampilan seperti itu, yang memamerkan aurat”. Jawab Azhar.

“mereka suka berpenampilan kaya gitu?? Masa sih?? Kalo kata gue sih mereka belum siap aja untuk berjilbab”. Kilah Rahza

“kalo menurut gue sih kata-kata belum siap memakai jilbab cuma alesan yang dibuat-buat. Mereka selalu berkilah, pengen ngejilbabin hati dulu, baru ngejilbabin aurat. Padahal kalo kata gue, mereka itu terlalu suka sama dirinya sendiri, mereka terlalu cinta sama dirinya yang berpenampilan memamerkan aurat itu, karena saat mereka berpenampilan seperti itu mereka merasa lebih cantik. Pernah denger kan ada orang ga mau berjilbab gara-gara ga mau rambut indahnya ga bisa diliat orang-orang? Atau orang-orang yang ga mau berjilbab gara-gara kalo berjilbab dia takut ga keliatan cantik lagi?? Karena itulah mereka lebih memilih berpenampilan seperti itu. Dan anehnya mereka merasa lebih nyaman berpenampilan seperti itu, tak peduli dengan beberapa mata laki-laki yang memandangnya dengan penuh nafsu.” 

“bisa juga sih kaya gitu, jadi intinya mereka belum siap meninggalkan rasa suka mereka terhadap penampilan dirinya untuk berganti menjadi penampilan yang dianjurkan oleh agama?”

“iya, semacam itulah” tukas Ahzar sambil menghembuskan asap rokoknya

“terus gimana sama pergaulan mereka, yang kayanya ga ada pembatas antara cewek sama cowok, bahkan gue liat pergaulan cewek berjilbab pun sekarang udah ga ada batasnya, lu liat deh cewek berjilbab arah jam delapan, yang lagi pegangan tangan sama cowoknya?” tanya Rahza lagi.

“yang mana? Oh itu. .cantik cuy ceweknya, haha. .kata gue sih, jawabannya sama aja. Karena mereka suka dengan pergaulan kaya gitu.”

“haha, kaya ga ada jawaban lain aja lu. Kayanya mereka udah suka dengan dunia mereka yang seperti itu, yah, semacam kecintaan terhadap dunia lah”. Timpal Rahza sambil mematikan rokoknya.

“nah itu lu tau. Ketika mereka udah suka sama satu hal dan mereka merasakan kenyamanan didalamnya, maka akan susah bagi mereka lepas dari hal tersebut. Lu pernah denger ga kata-kata ustadz Sodrun pas kemaren pengajian, terkadang apa yang kita suka itu tidak baik untuk kita , dan terkadang kita harus meninggalkan apa yang kita suka itu karena bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh agama”. Kata Azhar.

“perasaan kata-kata pa ustadz Ahsan hampi mirip deh sama firman Allah di surat Al-Baqarah ayat 216 deh, “ . . . Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”

“dan andai saja, semua cewek menutup auratnya dengn benar, dan pergaulan cewek sama cowok ada batasnya, gue yakin kasus perzinaan bakalan menurun”. lanjut Rahza.

“sayangnya kita ga bisa memaksa mereka untuk menjadi seperi itu”. Kata Azhar

Sayup-sayup mulai terdengar suara adzan dzuhur dari kejauhan, mereka berdua pun menghentikkan obrolan mereka. .

“udah adzan nih, shalat dulu yuk. Di deket sini, di jalan solontongan sana ada masjid. Kita shalat disana aja”. Ajak Rahza

“Ayo deh. Eh, bayar dulu tuh goyobodnya. Lu yang bayar yak”  kata Ahzar yang diakhiri dengan cengiran kudanya.

“nah, perasaan gue trus deh yang nraktir”

“hahaha”

Selesai membayar mereka pun bergegas menuju masjid. .